BAB 1. SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

ASWAJA VII-1 BAB 1


A. PERSINGGAHAN MUBALLIGH ISLAM


Sejak zaman sebelum Islam, bangsa Arab terkenal tidak hanya sebagai pengembara di daratan tetapi juga sebagai pelaut. Hal ini dapat dilihat dari letak negeri Arab yang dikelilingi lautan, yaitu Lautan Tengah, Lautan Merah, Samudra Indonesia dan Teluk Persi. Dalam banyak kisah diceritakan bahwa bangsa Arab sudah sering berdagang hingga mengarungi lautan.

Jalur laut merupakan jalur yang ramai menjadi lalu lintas para pedagang Arab dan Gujarat. Mereka hilir-mudik membawa dan menjajakan dagangannya. Meskipun dalam berdagang mereka singgah di bandar-bandar, namun tujuan para pedagang itu adalah negara Cina. Negara yang telah mempunyai peradaban maju dan dikenal oleh hampir setiap orang Arab, bahkan pernah Nabi Muhammad SAW menyebutkan dalam haditsnya, “Carilah ilmu walau di negara Cina”. Tidak mengherankan jika pada zaman Islam, lalu-lintas perdagangan di laut terus berjalan sebagai mana biasanya, bahkan cenderung semakin meningkat. Para pedagang Arab yang hilir-mudik di lautan lepas sudah beragama Islam. Oleh karenanya kegiatan mereka bukan saja untuk berdagang, tetapi juga untuk menyiarkan agama Islam kepada orang yang ditemuinya. Sehingga mereka berlayar tidak saja sebagai pedagang tapi juga sebagai Muballigh (penyiar Islam). Dalam perjalanannya dari Arab sampai dengan Cina, mereka singgah di beberapa Bandar, yaitu:

1 Bandar Gujarat
Bandar ini terletak di negara Hindia. Bandar gujarat merupakan bandar utama dan pertama persinggahan pedagang Arab menuju Indonesia, Malaka, Philipina, Vietnam dan Cina. Di Gujarat ini mereka berdagang sambil berdakwah mengajarkan agama kepada penduduk setempat. Persinggahan para pedagang ini tergantung dari cuaca cerah yang ada.
2 Bandar-bandar di Nusantara
Setelah singgah di gujarat, para pedagang melanjutkan perjalanan ke nusantara. Di nusantara mereka singgah di Aceh, kemudian ke Palembang. Kemudian dilanjutkan ke jawa seperti sunda kelapa, Cirebon, semarang, tuban dan gresik.

 

B. MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA

Agama Islam masuk ke Indonesia terjadi dalam tiga gelombang, yaitu:


1. Gelombanag pertama, Islam masuk ke Indonesia dimulai dari abad ke 7 M sampai dengan abad ke 10 M.
Gelombang ini dinamakan masa Islamisasi (peng-Islaman) masyarakat pribumi Indonesia. Proses Islamisasi ini berjalan secara damai tanpa ada paksaan dan kekerasan. Oleh karena itu waktu yang dilalui proses Islamisasi ini sangat panjang, hampir 300 tahun. Pada masa ini penganut Islam telah hadir di kepulauan Indonesia. Namun pada masa awal itu Islam masih menjadi agama yang dianut oleh para pedagang muslim yang singgah di perairan dan bandarbandar penting Nusantara. Sejak saat itu mulai tumbuh kelompokkelompok yang mengamalkan ajaran agama islam. Kelompok ini terus berkembang hingga mendekati pusat-pusat Kerajaan hindubudha.

2. Gelombang kedua terjadi pada abad ke 10 M sampai ke 13 M.
Pada abad ini Islam masuk ke Indonesia secara besar-besaran. Muballigh yang datang bukan saja orang Arab, tapi juga orang Persia dan Gujarat. Para Muballigh itu terdiri dari para pedagang dan kaum sufi. Pada abad ini para muballigh tersebut mulai merambah masuk ke pedalaman memperkenalkan berbagai hal tentang ajaran Islam.. sejak saat itu tumbuhlah kelompokkelompok penganut agama Islam di kota-kota dan pedalaman
Indonesia. Dari kelompok-kelompok inilah nanti berdiri kerajaan Islam di Nusantara.


3. Gelombang ketiga, terjadi pada abad ke 13 sampai ke 15 M.
Pada gelombang ini muballigh yang datang adalah para ahli sufi dan para ahli politik. Mereka masuk Indonesia setelah kerajaan Islam Daulah Abasiyah dihancurkan oleh tentara Tartar. Dengan kedatangan para muballigh ini Islam di Indonesia mempunyai wawasan politik dan sufi. Oleh karena itu di Indonesia berdirilah kerajaan Islam dan aliran-aliran sufi, yakni Naqsabandiyah Qadariyah, Satariyah, dan sebagainya.


C. KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA


Kerajaan Islam yang pernah berdiri di Nusantara adalah sebagai
berikut:


1. Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Islam Samudra Pasai berada di dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara, tepatnya di muara sungai Peusangan. Letaknya sangat stategis, yakni berada di jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan dunia dan menjadi penghubung antara pusat-pusat perdagangan kepulauan Indonesia dengan Gujarat, India dan Cina. Tanahnya subur dan makmur kaya akan rempah-rempah yang dibutuhkan oleh orang-orang di daratan Eropa dan Arab. Kerajaan Samudra Pasai juga mempunyai mata uang sendiri, yaitu terdiri dari tiga macam, emas, perak dan timah.

Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh Malik as-Shaleh. Dalam melaksanakan pemerintahannya Sultan Malik as-Shaleh menjadikan Agama Islam sebagai agama resmi kerajaan dan madzab Imam Syafi`i menjadi panutannya. Meskipun demikian dia sangat menaruh hormat terhadap agama lain seperti Hindu dan Budha, serta sangat memberi kebebasan kaum muslimin yang bermadzab selain Imam Syafi`i. Pengganti Sultan Malik as-Shaleh adalah putranya bernama Sultan Muhammad Malik at-Thahir. Dia seorang raja yang arif dan bijaksana, seorang alim dan fuqaha pengikut madzab Imam Syafi`i, fasih dan menguasai bahasa Arab. Hidupnya sederhana tidak pernah berpoyapoya setiap acara resmi kerajaan. Dia lebih sering berpakaian sebagai fuqaha dari pada memakai pakaian kebesarannya dari sutra dan katon.

Dan dia lebih sering bejalan kaki dari pada naik kereta ketika pergi ke masjid untuk shalat jum`atan dan shalat berjama`ah. Kerajaan Samudra Pasai mengalami kemunduran karena terjadi perpecahan dalam internal Kerajaan. Perpecahan ini yang menjadikan kegiatan perekonomian menjadi beralih ke Kerajaan Malaka. Para pedagang mulai berpindah ke Kerajaan Malaka. Pada tahun 1521, kerajaan Samudra Pasai dikuasai oleh Portugis selama tiga tahun, kemudian pada tahun 1524 dikuasai oleh Ali Mughayat Syah dari Aceh. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai di bawah kekuasaan Aceh Darussalam.


2. Kerajaan Perlak
Kerajaan Perlak merupakan kerajaan Islam yang terletak di Sumatra Bagian Utara. Kerajaan ini berdiri hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan Samudra Pasai menghormati kedaulatan wilayahnya dan menganggap kerajaan Perlak adalah sahabat dan saudaranya. Persaudaraan ini diperkuat dan dipererat dengan disuntingnya putri Perlak oleh Pangeran Pasai. Kerajaan Perlak didirikan oleh Sultan Alauddin, pada tahun 1161 setelah kerajaan Sriwijaya mengalami kelemahannya di wilayah Sumatra Utara. Atas dukungan para masyarakat yang baru memeluk Islam Alauddin dinobatkan menjadi Sultan di Perlak


3. Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh Darussalam didirikan oleh Ali Mughayat Syah. Kerajaan ini merupakan penyatuan dari dua Kerajaan yaitu Kerajaan mahkota alam dan Kerajaan Darul Kamal. Setelah Kerajaan Samudra Pasai dan malaka runtuh, Ali Mughayat syah memanfaatkan ini untuk mendirikan Kerajaan di Nusantara bagian barat. Ali Mughayat Syah menjadikan Darussalam sebagai pusat Kerajaan karena kota Darussalam ini ramai dikunjungi oleh para pedagang asing khususnya para pedagang muslim.
Setelah menata ibu kota kerajaan, pada tahun 1524 M, Ali Mughyat Syah mengembangkan wilayah dakwahnya ke daerah-daerah terdekat yakni antara lain: Daya, Piddie, Pasai dan Deli. Tak lama kemudian Ali Mughyat Syah wafat, kemudian diganti oleh adiknya yang bernama Alahuddin Riayat Syah yang bergelar al-Kahar (sang penaluk). Kerajaan Aceh Darussalam mengalami kemunduran sejak menguatnya VOC di nusantara. Sejak saat itu Kerajaan banyak dikuasai oleh orang-orang keturunan Portugis. Sehingga sultan hanya sekedar simbol belaka.


4. Kerajan Demak
Kerajaan Islam Demak merupakan kerajan Islam pertama di Pulau Jawa. Sebelum menjadi kerajaan, Demak merupakan daerah kadipaten Majapahit yang bernama Bintoro. Oleh raja Majapahit yang bernama Sri Kertabumi, Bintoro diberikan kepada anaknya yang bernama Raden Fattah untuk memimpin daerah Bintoro dan sekitarnya, sebagai Raja Muda atau Adipati. Setelah Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran, Raden Fatah atas dukungan para wali dan ulama-ulama tanah jawa mendirikan Kerajaan islam ini di pesisir pantai utara jawa. Kerajaan Demak ini menjadi salah satu Kerajaan maritim yang hebat di asia tenggara. Raja demak yang memimpin setelah Raden Fattah adalah Adipati Unus. Pemerintahannya sangat singkat, yaitu 3 tahun lamanya. Walaupun singkat Sultan Adipati Unus banyak berjasa dalam mengamankan wilayah dan dakwah Islamiyah. Adipati Unus juga menjadi pemimpin dalam perlawanan mengusir Portugis di selat malaka. Raja demak yang terakhir adalah Pangeran Trenggono. Beliau adalah adik kandung dari Adipati Unus. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, kerajaan Demak mencapai puncak kejayaannya.Ia menjadikan Demak sebagai pusat kekuasaan di Jawa dan sebagai pusat penyebaran Islam di Nusantara.

Kerajaan Pajang didirikan oleh Joko Tingkir atau Mas Karebet pada tahun 1568 M. Dia adalah anak Kebo Kenanga dari desa Tingkir dekat Salatiga, dan juga menantu Sultan Trenggono. Joko Tingkir dinobatkan menjadi Sultan Pajang oleh Sunan Giri dengan gelar Adiwijaya. Setelah Joko Tingkir dinobatkan menjadi Sultan, langkah pertama adalah menaklukkan daerah-daerah yang memisahkan diri. Daerahdaerah itu antara lain: Jipang, Demak, Jepara, Pati, Banyumas dan Madiun. Namun kerajaan Pajang ini tidak berumur panjang. Pada tahun 1686 diganti oleh anaknya yang bernama Pangeran Benowo.


6. Kerajaan Mataram

Cikal bakal kerajaan Mataram terletak di alas Mentaok, Kotagede. Daerah ini bernama Mataram, merupakan tanah yang dihadiahkan oleh joko tingkir kepada Ki Ageng Pamenahan atas jasanya mengalahkan Aryo Penangsang. Pada tahun 1578 M, Ki Ageng Pamenahan membuat kraton di Kotagede bernama Mataram, di bawah kekuasaan Pajang. Pada tahun
1584 M. Ki Ageng Pamenahan wafat, dan diteruskan putranya bernama Panembahan Senopati. Panembahan Senopati  memindahkan pusaka kerajaan Pajang ke Mataram. Dengan dipindahkan pusaka Pajang tersebut, Mataram sebagai penerus karajaan Pajang dengan rajanya Senopati. Pengganti Penembahan Senopati adalah putranya yang bernama Sultan Anyokrawati. Ia tetap meneruskan cita-cita ayahandanya, ingin menjadikan Mataram sebagai pusat kekuasaan Jawa. Namun perjuangannya semakin sulit, karena banyak para Adipati melepaskan diri dari Mataram. Sepeninggalnya Panembahan Senopati, Mataram dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Ia dinobatkan sebagai raja Mataram pada tahun 1631M. Cita-cita pendahulunya tetap dilanjukan; yakni menjadikan Mataram sebagai pusat kekuasaan di Jawa. Ia pun bercitacita Mataram sebagai pusat perjuangan penyebaran Islam di Jawa. Sultan Agung merombak kalender Jawa menjadi kalender Islam. Nama-nama bulan Islam dirubah, seperti Muharram menjadi Suro, Shofar menjadi Sapar, Rabi`ul Awal menjadi Mulud dan seterusnya. Terhadap tradisi jawa, seperti selamatan orang mati, upacara kelahiran bayi, upacara pernikahan dan seterusnya tidak dihilangkan tapi diisi
dengan amalan-amalan Islam. Setelah Sultan Agung, raja-raja yang memimpin mengalami kemunduran. Raja-raja yang pemimpin malah bersekutu dengan VOC belanda. Hubungan antara ulama dan Mataram menjadi tidak harmonis. Terjadi pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan karena raja yang berbuat sewenang-wenang. Melalui perjanjian Salatiga, pada tahun 1757 M.  Mataram dipecah menjadi 4 kerajaan, yaitu:
• Kasuhunan Surakarta
• Kasultanan Ngyogyokarto
• Kerajaan Paku Alam
• Kerajaan Mangkunegaran

7. Kerajaan Cirebon
Awal mulanya Cirebon ini sebuah kampung nelayan yang dihuni oleh masyarakat muslim. Sebelum berdiri kerajaan, di Cirebon berdiri pesantren yang bernama Gunung Jati, yang diasuh oleh Syekh Datuk Kahfi. Atas bantuan pesantren didirikanlah kerajaan Cirebon ini. salah satu pemimpinnya adalah Syekh Syarif Hidayatullah yang terkenal dengan Sunan Gunungjati. Syakh Syarif Hidayatullah inilah yang menurunkan dinasti raja Cirebon dan Banten. Terhadap pengembangan Islam, jasa Sunan Gunung Jati sangat besar. Ia mengembangkan Islam dari Cirebon ke daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Khusus untuk Banten, sunan Gunung Jati berhasil mendirikan kerajaan Banten, sebagai pusat pengembangan Islam dan perdagangan.


8. Kerajaan Banten
Sebelum berdiri sebagai pusat kekuasaan Islam, Banten adalah pelabuhan dagang di bawah kekuasaan Pajajaran. Letaknya adalah 10 Km sebelah utara kota Serang sekarang. Ketika Sunan Gunung Jati datang mengembangkan Islam di Banten, ia merasa perlu untuk mendirikan kerajaan sebagai pusat dakwah Islamiyah di wilayah ujung kulon ini. Kemudian sebelum kembali ke Cirebon ia mendirikan kerajaan untuk diserahkan kepada putranya yang bernama Maula Hasanuddin. Setelah makula hasanuddin wafat digantikan oleh anaknya yang bernama Maulana Yusuf. Setelah dinobatkan menjadi Sultan, ia berusaha memperluas wilayah Banten sekaligus menyebarkan ajaran Islam. Salah satu raja Kerajaan banten yang terkenal adalah sultan agung tirtayasa. Kebijaksanaan pemerintahannya terhadap VOC Belanda sangat keras, tidak mau bekerjasama dengan VOC dan menolak menerapkan kebijaksanaan monopoli.


0 Komentar

Tulis Komentar